Chapter 7 : Kisah Keenam - Nijdevan Sang Perampok-
Seorang berandal dari Botan bernama Nijdevan sangat ditakuti oleh semua orang. Bahkan polisi kualahan menghadapi tindakannya. Tidak ada seorang pun yang berani menghalau kejahatannya dengan ayunan pedang, cemeti, atau borgol sehingga dia bisa diringkus.
Pada suatu saat, Nijdevan mendengar berita bahwa pengantin baru bernama Siyamen dan istri, Heje pergi ke rumah kakeknya. Nijdevan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk merampoksemua harta yang pengantin muda itu miliki.
Di tempat lain, seorang pemuda bernama Mele Kasim mendapat perintah dari para tetua, ia segera mendaki Bukit Kirklar bersama dengan santri. Sepanjang jalan mereka melantunkan doa kepada Allah SWT dan membaca Maulid Fatimah az-Zahra. Lantunan doa mengetuk pintu penciptaan. Mungkin sebagai tanda kemuliaan hari saat Fatimah az-Zahra diciptakan dalam rahim sang bunda, nasin Nijdevan pun berganti.....
Di dalam peti perhiasan ia dapati di dalam kamar sang pengantin muda terdapat sebuah tulisan dari benang emas di atas sutra yang berbunyi, Syafaat ya.. Rasulullah.. Tiba-tiba, sekujur tubuhnya kaku. Pedang berada di tangannya pun jatuh, ia langsung berucap,"Ya Allah, ya Muhammad."
Saat sadar, Nijdevan mendapati dirinya berada di bawah sebuah pohon kurma dengan tali yang melilit tubuhnya bersama batang pohon. Ia pun menangis, Nijdevan yang perkasa telah nangis tak berdaya.
Terletak dalam hatinya yang terdalam untuk bertobat. Terucap dari kedua bibirnya kalimat Syafaat ya... Rasulullah sampai akhirnya pingsan akibat derap jantung yang ditimbulkan sehingga ia tidak sadarkan diri.
Suatu hari, ia mendapati seekor merpati yang bersarang di pundaknya. Sekian lama merpati itu kahirnya melepaskan lilitan tersebut dan Nijdevanpun terlepas. Kehidupannya pun berubah. Ia berkerja sebagai pembantu di hamam, belajar fiqih dengan Mele Kasim, dan merubah namanya menjadi Ramadan Ia luruskan niatnya menempa diri hingga jalan hidupnya sampai di Mekkah al-Mukaramah.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar