Kamis, 07 April 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 6: Kisah Kelima -Kendi Duhler-

Menurut berita yang datag dari Bagdad, pasukan Sultan Utsmani di Istanbul telah berangkat untuk melakukan penaklukan di daratan Timur. Entah apa alasannya, sang komando, Ulu Hakan, telah mengalihkan rutenya ke Bagdad. Belum pasti apa alasan pengalihan itu. Baik ataukah buruk? Yang pasti kedatangan pasukan ke Bagdadtelah membuat semua penduduk ketakutan.

Hanya ada dua pilihan bagi jemaah haji yang hendak pergi  ke Karbala. Yang pertama, pergi ke Mekkah dengan naik perahu melalui Sungai Eufrat sampai Basra. Dari sana naik kapal ke Bahrain, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat. Pilihan kedua adalah menempuh perjalanan darat ke arah Barat dari tanah Karbala. Jalan kedua ini tentu tidak jauh lebih mudah dibanding alternatif pertama.

Keputusan pun harus ditentukan dalam waktu singkat. Berita yang sampai tentang Behzat, putra Husrev Bey, juga semakin membuat khawatir. Katanya segerombolan pasukan berjumlah 7 orang dari Karbala menyerang 'peninggalan amanah suci.' Katanya pula, Behzat ada di dalam rombongan itu. Entah sudah berapa kali Karbala hancur oleh kekerasan para penguasa. Entah berapa kali pula ia mendapati kebaikan dari para sultan sehingga kembali dibangun setelah kehancurannya.

Seseorang bernama Junaidy Kindi, tersenyum sambil memerhatikan Abbas yang sama sekali tidak mengerti situasi yang sedengan bergejolak. "Kisahnya akan saya ceritakan dalam perjalanan."

Junaidy Kindi membawa sebuah kendi yang berada di dalam kantong pelana kuda yang terbuat dari sutera berhias sulaman benang emas. Ada sebuah gulungan kertas yang di ambil dari benang yang menggantung di mulut kendi itu. Ia buka gulungan itu.

"Maukah aku tunjukkan rute perjalanan yang paling aman, wahai pejalan muda?"

"Ya fattah! Betapa engkau seorang pemimpin yang bijakasana. Kami siap mematuhi perintah Anda, wahai Tuan!"

"Ini adalah peta yang menunjukan tempat kelahiran dan tumbuh dewasa baginda Fatimah az-Zahra. Ambillah peta ini. Setelah ini, dia adalah amanahmu untuk menjaga dan merawatnya."

Beberapa hari dalam perjalanan terasa bagaikan limpahan anugerah yang turun dari surga bagi Junaidy Kindi dan pengelana muda, Abbas. Karena mengerti kecintaan Abbas terhadap Sayyidatina Fatimah az-Zahra, ingin rasanya Junaidy Kindi menerangkan semua sejarah tentang kehidupan az-Zahra.

Saat kafilah sudah sampai di sebuah lembah di tengah-tengah padang pasir yang memiliki tanda-tanda keberadaan sumber air, mulailah smeua orang berebut untuk turun dari unta dan hewan tunggangannya.

Menjelang waktu subuh pada hari sebelumnya, orang-orang tersebut dikagetkan dengan kejadian menyedihkan. Saat itu tiba-tiba datang segerombolan orang menyerang perkampungan. Setelah kejadian pedih itu, datanglah rombongan Junaidy Kindi dan Abbas.

Untung saja kepala lembah telah mengenal Junaidy Kindi sehingga mereka di sambut. Mereka bercerita tentang apa yang mereka alami, sampai akhirnya Abbas menuturkan kisahnya, terasa semua pintu hati Junaidy Kindi terbuka satu per satu. Dalam seketika mengalir harapan bahwa Abbas adalah anaknya.

Abbas melihat ke arah kendi yang di bawa oleh Junaidy Kindi, itu adalah 'Kendi Duhter', amanah yang sangat penting yang diwariskan kepada Junaidy Kindi dari mendiang nenek moyangnya dengan dari pindah ke satu tang ke tangan lainnya.

Begitu mendengar kisah kendi itu, Abbas pun langsung melompat. Ia menggenggam, mencium, dan memeluk kendi yang terbungkus kain itu dalam tangisan tersedu-sedu bagaikan memeluk ibunya yang snagat ia rindukan yang kini tidak tau keberadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar