Rabu, 13 April 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 11 :  Kisah Kesepuluh -Para Penduduk Kampung Kepedihan-


Majnun dan Abbas telah menempuh perjalanan ke Basra Selatan dengan menyusuri pinggiran Sungai Eufrat. Di tengah perjalanan, Sang Majnun menawari Abbas beristirahatsejenak di sebuah kampung. Mereka duduk di pinggir aliran air sambil membasuh wajah mereka, dan tenggorokan mereka.


Di sinilah mereka, di kampung orang-orang yang berkabung dalam kesedihan. Mereka dibawa ke sebuah tempat dengan bangunan tinggi yang ditutupi dengan pelepah daun kurma. Di dalam tempat itu, masih ada dua orang yang kedua tangannya diikat dengan tambang. Para pengawal langsung memasukkannya ke dalam gedung itu dengan cepat seraya mengunci pintu rapat-rapat. Saat mendekakti kedua orang itu, Abbas ternyata mengenalnya. Ia adalah Behzat, putra Husrev Bey yang genap empat puluh hari meninggalkan sang ayah di Nergis Han. Behzat bersama Ibn Siraj al-Kurtubi.

Behzat kemudian bercerita bahwa ia mengikuti si Majnun sehingga ia berada di dalam musibah ini. Orang-orang kafir mengenalnya sebagai Kurtuba dari Andalusia. Dia pernah menjadi tawanan, tetapi ia melarikan diri ke Andalusia. Dia kemudian berlindung di negara Magrib. Dia adalah seorang pengembara yang pandai baca tulis dan mahir membuat peta.

Dalam hati Abbas bertanya-tanya, apakah peta yang ditunjukkan dengan Tuanku Junaydi Kindi sama? Ataukah kemampuan memebuat peta tidak lain hanyalah keahlian ilmu sihir sebagaimana yang dikatakan Husrev Bey?

Mereka tidak membagi rahasia yang paling besar dengan Husrev Bey, karena memegang rahasia ini bisa jadi berakibat kematian. Orang-orang pendukung setia Syekh Tahmasb tidak tinggal diam. Mereka melakukan segala upaya untuk menyalahkan pemerintah Istanbul.Oleh karena itu pemberontakan dan perampokan yang terjadi semakin  meningkat akhir-akhir ini.

Pada malam itu, semua orang akan diinterogasi Sang alim Ziyasuddin dan para tetua Kampung Kepedihan.

"Memohon maaf, meminta belas kasih, adalah nikmat yang telah dianugerahkan kepada Nabi Yunus AS sehingga menjadi wasilah baginya dan selamat dari dalam perut ikan besar. Meski demikian, klian semua harus meyakinkan terlebih dahulu para anggota tetua ..."

Pada saat inilah Majnun menyela.

"Seseorang yang baru saja aku bawa adalah saksi bagi kedua orang yang lainnya, wahai para warga yang sedang berkabung. Ketiga-tiganya datang dari Karbala."

"Baiklah, lalu siapa yang akan menjadi saksi orang yang ketiga ini? tanya seorang tetua.

Orang ketiga itu tak lain adalah Abbas. Begitu mendengar pernyataan itu, luluh sudah dirinya.

"Ya, Mabrur! Saksiku adalah Allah Ta'ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para nabi-Nya. Semoga salawat dan salam tercurah pada baginda Muhammad al-Mustafa, Ahli Bait, Imam Ali yang mendapat mahkota julukan La Fatta, baginda Fatimah az-Zahra, dan anak-cucunya," kata Abbas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar