Rabu, 06 April 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 5 :  Kisah Keempat - Kupu-kupu yang Patah Sayapnya


Genap sudah enam bulan kepergian Hasyim, sang "pengabdi jubah" dari kampung halaman Haji Lolo yang berada di Kusadasi, menuju Karbala. Dengan izin Allah SWT, setelah meneyempurnakan ziarahnya ke tanah Karbala, ia berniat melanjutkan perjalanan ke Mekkah dan Madinah.


Cinat Hasyim yang sedemikian murni telah menggetarkan jiwa semua orang yang berkumpul di aula Layli Syamma untuk mendengarkan peraturannya. Memang, semua orang yang telah menempuh perjalanan sampai tempat ini pasti terluka hatinya. Dan semua kisah pedih ini berhubungan dengan kisah pedih yang menimpa Fatimah az-Zahra dan Ahli Bait.

Dengan demikian, setiap orang yang telah layak untuk mencintainya akan ditimpa musibah, "Al bala u lil wilai kal'lahabu liz'zahabi," kata mereka menerangkan linangan air mata sang ayahanda Fatimah az-Zahra. Demikianlah, dengan mencapai tingkat cinta, berarti ia siap mendapatkan guyuran "bancana", ibarat besi yang terbakar api sehingga menjadi emas.

Dan saat itu Hayim mendengarkan kisah seorang wali Allah agung yang jiwanya dipenuhi kecintaan kepada Rasulullah SAW, ialah sang Uwais al-Qarni.

Seorang Uwais yang begitu mencintai baginda Rasulullah SAW tanpa pernah bersua dengan wajah Sang Nabi. "Para sahabat yang mulia! Pahatan-pahatan pada dinding ini, menurut bahasa kitab, adalah miskat.  Miskat berarti cekungan yang terdapat di kedalaman samudera cinta. Hal yang paling mulia di jagat raya ini adalah dirinya, ya cekungan itu, miskat.... yang tidak lain adalah hati manusia. Hati yang senantiasa menghidupkan sang kekasih di dalamnya adalah hal yang paling mulia di jagat raya ini. Lalu, bagaimana dengan yang lain? Selainnya hanya omong kosong belaka. Kenangan dari sang kekasih hancur dalam waktu kemarin  dan yang akan datang. Namun, jika cinta senantiasa bersemayam di dalam hati, tidak akan ada kata kehilangan atau menemukan."

Saat semua orang sedang berbicara dan mendengarkan kisah ini, tiba-tiba datang seorang bocah kecil, melepas sendalnya seraya mengucapkan salam dan memasuki majlis ikut duduk di sela-sela orang yang sdang berkumpul. Ia pun berkata, " saya mendapati kupu-kupu ini di samping makam. Satu sayapnya patah. Saya tidak tega dibiarkan begitu saja. Bisa jadi ia terinjak oleh orang-orang lewat. Bolehkah  ia tetap berada di sini?"

"Di dalam pesantren Husein, seekor kupu-kupu pun mendapati tempat yang mulia. Kita akan tempatkan teman kecilmu ini di dalam mangkuk ini. Menurut para ahli kebijaksanaan, ia adalah rahasia cinta kepada Rasulullah SAW. Cinta dan kasih sayang yang menyusun seni pencipta-Nya. Karena itulah kita menyebutnya Miskat, juga merupakan simbol dari Rasulullah SAW, wahai Abbas!"

Semua orang yang berada di dalam aula itu tiba-tiba melihat sebuah koatk yang dibawa boavh itu.

"Ini adalah lilin berharga butan Khasmir. Ia mirip dengan bentuk bintang, mutiara."

Dan ayat-ayat Alquran serasa terhampar di hadapam mereka, Surat An-Nur ayat ketiga puluh lima.

"Dengan asma Allah yang Maha Menciptakan cahaya. Dengan asma Allah, cahaya dari segala cahaya. Zat yang Maha mengatur segala hal. Yang Maha menciptakan cahaya dari segala cahaya, yang menuliskan Nur dalam bait-bait kitab, terhampar di atas lembaran-lembaran kulit, dalam ukuran tertentu, melalui sang utusan yang mulia, segala puji bagi Allah semata. Zat yang dikenal dengan kemuliaan-Nya, terkenal dengan sanjungan-Nya, yang menjadi curahan rasa syukur. Duahi Allah, semoga shalawat dan salam tercurah untuk baginda Muhammad SAW dan mereka yang meniti di jalannya."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar