Sabtu, 09 April 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 8 :  Kisah Ketujuh -Sangkar Burung Seriti-

Terjadilah keadaan mencekam di tempat menginap. Kelompok Fudeyh, pemimpin padang pasir sedang memasuki sebuah tenda dengan penuh amarah.

Saat itu, Junaydi Kindi bersama Abbas sedang bercerita tentang Kendi Duhter. Karena itulah ia tidak mendengar jeritan dan bunyi cemeti dari tenda-tenda dekat pohon palem tempat mereka berdua menggelar tikar.

Abbas yang pertama tahu akan hal itu langsung ketakutan. Baru akan beranjak dari duduknya, tenda yang berada di dekat mereka dirobohkan dan orang-orang berlarian. Abbas tesungkur ke tanah dengan tamparan keras. Sedangkan nasib Junaydi Kindi, tubuhnya dipegangi beberapa orang, kedua tangannya diikat ke belakang.

Terjadi kesalahpahaman, kelompok Fudeyh mengira bahwa mereka adalah perampok dan mata-mata. Mereka melihat kantong  yang di genggam erta-erat oleh Abbas.

"Hai, anak kecil! Cepat buka kantong itu. Kita lihat klaian mendapatkan jatah apa dari perampok itu!"

Keringat bercucuran membasahi tubuh Junaydi Kindi. Wajahnya basah setelah mendengar ucapan yang meminta untuk membuka kantong itu. Meski bukan berisi perhiasan, ia takut 'Kendi Duhter' di minta mereka. Bagaimana kalau Abbas menceritakan semua hal tentang kendi itu? Bagaimana kalau mereka mengambil dengan paksa kenangan Rasulullah SAW itu?

Semua ornag tahu bahwa Fudeyh, sang pemimpin padang pasir sangat mencintai baginda Fatimah az-Zahra. Kalau sampai tahu tentang 'Kendi Duhter' itu, pasti ia tidak akan membiarkannya dibawa lagi oleh orang lain.

Tetapi apa yang terjadi, saat Fudeyh dengan lantang berkata bahwa selama suku yang berada di bawah keamanannya, tidak diperkenankan perhiasan apapun dibawa dan mereka berhak untuk mengambil sebagai jaminan, Abbas pun berkata,

"Tuan Fudeyh yang mulia! Aku berasal dari Tikriti, cucu seorang dukun bayi Destigul Tikriti. Sekarang aku menjadi pembantunya Tuan Junaydi Kindi.Kantong yang selalu aku dekap hanyalah sebuah kendi air minum kenang-kenangan dari mendiang ibuku, Nurbanu Hanim. Aku selalu mendekapnya saat merindukan ibuku. Sungguh, demi Fatima az-Zahra, demi Ali Bait, demi Sayyidina Husein, berilah keamanan kepada kami yang baru saja datang dari tanah Karbala."

Tiba-tiba hati Fudeyh tersentuh saat seorang anak memohon kepadanya dengan menyebutkan baginda Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Husein. Ia pun bangkit dari tempatnya seraya membacakan salawat dengan suara lantang, diikuti ratusan tentara yang mengawalnya.

Saat mendengar lantunan salawat itulah Abbas mulai membuka kendi berselimut kain berwarna emas itu. Kendi Duhter, seolah ia adalah wasilah syafaat baginda Fatimah az-Zahra.

Sementara itu, Junaydi Kindi masih syok dengan apa yang ia dengar: Nurbanu Hasim... Ia tidak habis pikir, mengapa selama ini lupa untuk menanyakan nama ibunya. Kini, sudah tidak ada keraguan lagi bahwa Abbas adalah anaknya sendiri yang telah hilang bertahun-tahun lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar