Kamis, 17 Maret 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 2: Kisah Pertama-Penginapan Nergis Han


Siapa yang tahu berapa kali kota ini di hancurkan, di rusak oleh penguasa zalim?
Siapa yg tahu sudah berapa kali pula ia dibangun kembali oleh kebijakan sultan yang mengerti balas budi? Di sini, di kota Karbala tempat orang-orang dari berbagai bangsa, warna kulit, dan dijadikan tempat perselisihan antara Suni dan Syiah.

Karena itu, dalam pandangan Husrev Bey, sang pemilik Nergis Han,”Satu orang datang menghancurkan, satu orang lagi membangun. Terus-menerus silih berganti...”, kata Husrev Bey sembari memeriksa minyak tanah yang masih tersisa dalam botol lampu-lampu pijar sebelum datang waktu fajar. Tiba-tiba Behzat, anak lelakinya hadir dalam angan-angannya.”Apa yang kurang dari keindahan Karbala sehingga satu-satunya anakku harus merantau jauh di negeri sana?” lirihnya dalam hati.

Ketika lima belas abad lalu para generasi pendahulu datang ke tanah suci ini bersama keluarganya. Bukankah seluruh jalan menuju Mekkah-Madinah akan berlanjut pada Karbala? Lebih-lebih sepeninggalan dirinya, siapa lagi yang akan memngurusi penerangan dengan lentera di makam ini? Seharusnya ia ceritakan kepada Behzat biar dia tahu siapa yang hendak mengurusi Nergis Han ini, siapa yang akan menjamu para jemaah haji. Semakin Husrev Bey memikirkan hal itu, semakin jantungnya terasa diibuat berhenti.

Genap empat puluh hari yang lalu , Behzat sang anak mengumpulkan buku, alat tulis, dan barang pribadinya seraya berpamintan kepada ayahanndanya.  Ini bermula saat para jemaah haji dari Magribi menginjakkan kaki mereka ke tanah Karbala. Ruang tamu para jemaah itu berdampingan dengan kamar Behzat. Semua kata-kata dan cerita mereka tidak pernah habis.  Tidak ada lagi tempat di dunia ini yang belum pernah mereka kunjungi. Sepanjang malam dan bahkan siang mereka ceritakan kepada anaknya. Pada akhirnya, sang anak mempercayainya dan mau dijadikan juru tulis. Sayangnya, iapun ikut pergi bersama mereka.

Tiba-tiba Husrev duduk bersimpuh seolah-olah kedua kakinya luluh dalam tangisan. Seolah-olah peristiwa Karbala yang dialami Sayyidina Husein telah diperlihatkan kepadanya. Waktupun dengan secepat kilat menerbangkannya ke masa Sayyidina Husein seakan-akan tampak dalam pandangannya.

Sayyidina Husein yang menjadi pemimpin keluarga Ahli Rasul terpaksa harus berpisah dari kota Mekkah  sebelum menyelesaikan ibadah haji. Sang kakek Rasulullah SAW dan sang ayahanda, Sayyidina Ali dan juga ibunda. Sayyidati Fatimah juga pernah dikeluarkan dari Mekkah pada masa itu.

Saat berpamitan kepada Ummu Salamah. istri baginda Rasulullah SAW, sang nenekpun menangis seraya menahannya agar jangan pergi. Namun sang Imam tidak menginginkannya.Tetapi, Ummu Salamah dengan suara terbata-bata memberi berita yang telah dikirim oleh Malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW.

Pada hari itu, Malaikat Jibril turun dari langit seraya bertanya kepada baginda Rasulullah SAW.
"Apakah engkau sangat mencintai cucumu?"
"Ya, aku sangat mencintainya!" Jawaban Rasulullah SAW.
Malaikat Jibril kemudian menunjukkan segenggam tanah basah.
"Ini adalah pertanda kalau umatmu akan tega menyakiti cucumu. Hasan akan diracuni, kemudian adiknya Husein akan syahid dengan tebasan pedang. Dan tanah yang aku ambil ini adalah tanah dari tempat Husein syahid."

Rasulullahpun menangis sambil berseru," Janganlah engkau pergi, duhai cucuku." Namum, orang-orang zalim , para berandal, penyembah dunia, harta, dan tahtatetap tidak akan membiarkan begitu saja keluarga Ahli Bait.




1 komentar:

  1. Wah kisah fatimah az-zahra
    Kerinduan dari karbala
    Serial 4 wanita penghuni surga membuat saya merinding membacanya.

    BalasHapus