Rabu, 30 Maret 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 4: Kisah Ketiga-Bintang Venus

Seusai menunaikan shalat isya, Hasyin dan Husrev Bey keluar ke halaman makam bagian luar. Dengan susah payah mereka menerobos arak-arakan para darwis yang sedang mengusung gunungan berjalan menuju arah Selatan.


Seorang Nenek bernama Destigul Tikriti bersama sang cucu, Abbas, sedang berada di halaman dalam makam. Di sepanjang jalan bagian luar pemakaman terlihat mereka yang sangat menyedihkan menurutnya.Mereka yang mencium sebuah kain emperan berbahan satin yang sudah sedemikian pudar dan benang-benang yang terlepas saking seringnya disentuh oleh jemaah haji untuk mengusap air matanya. Mereka semua mengira kain emperan itu adalah kain kenangan  milik Sayidatina Fatimah az-Zahra. Itu terjadi setelah peristiwa Karbala, mereka menginginkan kemuliaan dari tirai itu, padahal tidak ada kemuliaan pada tirainya melainkan pada hati yang meindunkepada hakikat yang ada di balik tirai itu.

Selain itu terdapat kerumunan yang datang dari berbagai kota dan negara, saling berdesakan yang meniru dan menyimak bacaan doa yang dipanjatkan oleh para imam dari kitab yang halamannya terlihat sangat lusuh, dengan kedua mata yang meneteskan air mata dalam tangisan sedu-seduan. Rambut mereka dicukur habis dengan pakaian bernoda dadrah di bagian punggung. Mereka berasal dari kalangan Ifrikiyah.

Melihat kalangan itu, nenek Destigul Tikriti tidak pernah setuju dengan teriakan-teriakan mereka yang menjerit histeris sejadi-jadinya. Ia berdoa semoga Allah SWT memberikan kewarasan akal kepada orang-orang Ifrikiyah yang dimabuk cinta.

Nenek Destigul dan Abbas akhirnya pergi meninggalkan halaman  makam Imam Husein, baru disadari bahwa bintang-bintang di angkasa terlihat sangat terang. Belum lagi cahaya lampu yang seolah-olah cahayanya diserap oleh makam Imam Husein. Entah sepanjang malam atau siang, hari atau abad, tak terhitung orang-orang yang menangis di dalamnya.

Sepanjang perjalanan di bawah bintang-bintang, rembulan, dan bintang venus yang selalu menyinari hati nenek Destigul, mereka berdua bercerita ringan seraya melantunkan puisi yang nenek hafalkan bersama teman-temannya di kampung Tikriti.

Seraya berjalan, sang cucu berkata bahwa ia sedang merindukan ibunya. Sang nenekpun berkata, "Setiap orang yang masih ada di dunia ini pasti akan merindukan apa yang ada di belakangnya. Inilah takdir yang telah ditetapkan. Apa yang membuat Fatimah az-Zahra menangis setelah ayahandanya wafat, kita juga akan mendapatkan bagian darinya. Hanya saja, sekarang ibumu sudah berada di sisi Zat yang jauh lebih mencintainya daripada cintamu padanya. Duhai cucuku, Bintang venus yang sekarang bersnar di atas kepalaku itu telah menjadi saksi bahwa kelahiran dan kematian adalah dua hal yang saling menyusul."

Pada hari kelahiran Fatima az-Zahra, saat semua orang mencacinya, para ustadz menerangkan, dengan seizin Allah SWT, datanglah baginda Asiyah dan Maryam menemani baginda Khadijah untuk menjadi teman hidupnya. Datang pula Hajar dan Sarah bersama seorang malaikat bernama Sundus menemani hari-hari sulit saat Khadijah hendak melahirkan.


Jumat, 18 Maret 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 3: Kisah Kedua-Semerbak Malam

Junaydi Kindi adalah seorang pedagang terkenal di kota Belh. Nasab ibunya sampai pada cucu sahabt terkenal, Afif al-Kindi.Ia mengikuti fikih Imam Azam.Sahabat dekatnya, Husrev Bey, memiliki pemahaman yang berbeda dengan Itsna Asyariyah ini. Tetapi mereka selalu sepemahaman masalah Imam Azam yang berteman baik dengan Imam Ja'far Sadiq.

Junaydi Kindi datang ke kota Karbala dengan maksud mengunjungi tanah suci. Dari sini ia beranjak menuju Nergis Han dengan menaiki unta. Di sana ia menyendiri di bagian Layli Syamma yang berbatasan dengan serambi, delapan pasang tiang.

Layli Syamma berarti sedap malam. Di tempat ini para pengunjung mengkhatamkan Alquran dan bertakarub kepada Allah dengan terus memperbanyak membaca tasbih. Dan malam ini, ruangan terasa begitu sunyi, seolah-olah berada dalam alam barzah yang memisahkan alam kehidupan dan hakikat. Inilah majelis Layli Syamma, tempat penafsir mimpi.

Saat datang pertama kali ke tanah Karbala, ia langsung infakkan hartanya utnuk membangun sebuah madrasah. Untuk itu ia meminta teman dekatnya, Husrev Bey agar mencarikan guru yang akan mengajari siswa-siswa belajar menulis, membaca, dan agama.

"Ibunda kita Fatimah az-Zahra tidak henti-hentinya menekankan kepada semua orang disekitarnya utnuk benar-benar mengajari baca tulis anak mereka, terutama sepanjang empat tahun empat bulan, empat hari. Bagaimana kita bersama-sama menunaikan sunah ini, Husrev Bey?" tanyanya saat malam pertama sampai di Nergis Han.




Kamis, 17 Maret 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

Chapter 2: Kisah Pertama-Penginapan Nergis Han


Siapa yang tahu berapa kali kota ini di hancurkan, di rusak oleh penguasa zalim?
Siapa yg tahu sudah berapa kali pula ia dibangun kembali oleh kebijakan sultan yang mengerti balas budi? Di sini, di kota Karbala tempat orang-orang dari berbagai bangsa, warna kulit, dan dijadikan tempat perselisihan antara Suni dan Syiah.

Karena itu, dalam pandangan Husrev Bey, sang pemilik Nergis Han,”Satu orang datang menghancurkan, satu orang lagi membangun. Terus-menerus silih berganti...”, kata Husrev Bey sembari memeriksa minyak tanah yang masih tersisa dalam botol lampu-lampu pijar sebelum datang waktu fajar. Tiba-tiba Behzat, anak lelakinya hadir dalam angan-angannya.”Apa yang kurang dari keindahan Karbala sehingga satu-satunya anakku harus merantau jauh di negeri sana?” lirihnya dalam hati.

Ketika lima belas abad lalu para generasi pendahulu datang ke tanah suci ini bersama keluarganya. Bukankah seluruh jalan menuju Mekkah-Madinah akan berlanjut pada Karbala? Lebih-lebih sepeninggalan dirinya, siapa lagi yang akan memngurusi penerangan dengan lentera di makam ini? Seharusnya ia ceritakan kepada Behzat biar dia tahu siapa yang hendak mengurusi Nergis Han ini, siapa yang akan menjamu para jemaah haji. Semakin Husrev Bey memikirkan hal itu, semakin jantungnya terasa diibuat berhenti.

Genap empat puluh hari yang lalu , Behzat sang anak mengumpulkan buku, alat tulis, dan barang pribadinya seraya berpamintan kepada ayahanndanya.  Ini bermula saat para jemaah haji dari Magribi menginjakkan kaki mereka ke tanah Karbala. Ruang tamu para jemaah itu berdampingan dengan kamar Behzat. Semua kata-kata dan cerita mereka tidak pernah habis.  Tidak ada lagi tempat di dunia ini yang belum pernah mereka kunjungi. Sepanjang malam dan bahkan siang mereka ceritakan kepada anaknya. Pada akhirnya, sang anak mempercayainya dan mau dijadikan juru tulis. Sayangnya, iapun ikut pergi bersama mereka.

Tiba-tiba Husrev duduk bersimpuh seolah-olah kedua kakinya luluh dalam tangisan. Seolah-olah peristiwa Karbala yang dialami Sayyidina Husein telah diperlihatkan kepadanya. Waktupun dengan secepat kilat menerbangkannya ke masa Sayyidina Husein seakan-akan tampak dalam pandangannya.

Sayyidina Husein yang menjadi pemimpin keluarga Ahli Rasul terpaksa harus berpisah dari kota Mekkah  sebelum menyelesaikan ibadah haji. Sang kakek Rasulullah SAW dan sang ayahanda, Sayyidina Ali dan juga ibunda. Sayyidati Fatimah juga pernah dikeluarkan dari Mekkah pada masa itu.

Saat berpamitan kepada Ummu Salamah. istri baginda Rasulullah SAW, sang nenekpun menangis seraya menahannya agar jangan pergi. Namun sang Imam tidak menginginkannya.Tetapi, Ummu Salamah dengan suara terbata-bata memberi berita yang telah dikirim oleh Malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW.

Pada hari itu, Malaikat Jibril turun dari langit seraya bertanya kepada baginda Rasulullah SAW.
"Apakah engkau sangat mencintai cucumu?"
"Ya, aku sangat mencintainya!" Jawaban Rasulullah SAW.
Malaikat Jibril kemudian menunjukkan segenggam tanah basah.
"Ini adalah pertanda kalau umatmu akan tega menyakiti cucumu. Hasan akan diracuni, kemudian adiknya Husein akan syahid dengan tebasan pedang. Dan tanah yang aku ambil ini adalah tanah dari tempat Husein syahid."

Rasulullahpun menangis sambil berseru," Janganlah engkau pergi, duhai cucuku." Namum, orang-orang zalim , para berandal, penyembah dunia, harta, dan tahtatetap tidak akan membiarkan begitu saja keluarga Ahli Bait.




Rabu, 16 Maret 2016

"FATIMAH AZ-ZAHRA"

JUDUL : FATIMAH AZ-ZAHRA (Kerinduan dari Karbala)
PENULIS : Sibel Eraslan
PENERJEMAH : Aminahyu Fitriani
PENERBIT : Kaysa Media


Buku ini menceritakan tentang kisah az-Zahra yang begitu sepi, sedangkan sebelum kepergiannya yang senyap Fatimah menandai sebuah narasi hidup tentang keperkasaan wanita.

Chapter 1: EPILOG

Zebun bin Mestan Efendi, seorang penyair yang kehilangan tempat tinggalnya karena habis dimakan api. Toko-toko dan deretan penginapan yang ia tempati juga berubah menjadi abu. bukan hanya itu, semua investasinya berikut alat tulis, tinta dan 72 buku tulispun dilahap oleh kobaran api.

Salah satu karya agungnya adalah Diwan Azzahra, buku yang berkisah tentang ibunda Fatimah dan keluarga. Karya besar milik Zebun Mestan ini kerap menarik perhatian Wali Kota. Tapi siapa sangka, karya agungnya itu di akui oleh puluhan orang yang berbohong telah menulis karya seindah itu. Pada akhirnya mereka semua di penjara karena titah sang Wali Kota.

Seolah-olah apa yang ia alami adalah tabir dari mimpinya. Apa yang lebih susah di dunia ini dari seorang tak berdosa yang terpaksa harus membuktikan ketidakberdosaannya? Pikirnya.

Zebun Mestan akan membuktikan kepada sang Wali Kota di muka umum bahwa ia adalah penulis karya Agung tersebut. Genap 40 hari ia mengutarakan 40 cerita yang ada di dalam buku Diwan Azzahra.

"Jikalau diperkenankan selamat dari kejadian ini, aku tidak akan menulis lagi barang satu bait sekalipun," katanya seraya mulai bercerita..