Seusai menunaikan shalat isya, Hasyin dan Husrev Bey keluar ke halaman makam bagian luar. Dengan susah payah mereka menerobos arak-arakan para darwis yang sedang mengusung gunungan berjalan menuju arah Selatan.
Seorang Nenek bernama Destigul Tikriti bersama sang cucu, Abbas, sedang berada di halaman dalam makam. Di sepanjang jalan bagian luar pemakaman terlihat mereka yang sangat menyedihkan menurutnya.Mereka yang mencium sebuah kain emperan berbahan satin yang sudah sedemikian pudar dan benang-benang yang terlepas saking seringnya disentuh oleh jemaah haji untuk mengusap air matanya. Mereka semua mengira kain emperan itu adalah kain kenangan milik Sayidatina Fatimah az-Zahra. Itu terjadi setelah peristiwa Karbala, mereka menginginkan kemuliaan dari tirai itu, padahal tidak ada kemuliaan pada tirainya melainkan pada hati yang meindunkepada hakikat yang ada di balik tirai itu.
Selain itu terdapat kerumunan yang datang dari berbagai kota dan negara, saling berdesakan yang meniru dan menyimak bacaan doa yang dipanjatkan oleh para imam dari kitab yang halamannya terlihat sangat lusuh, dengan kedua mata yang meneteskan air mata dalam tangisan sedu-seduan. Rambut mereka dicukur habis dengan pakaian bernoda dadrah di bagian punggung. Mereka berasal dari kalangan Ifrikiyah.
Melihat kalangan itu, nenek Destigul Tikriti tidak pernah setuju dengan teriakan-teriakan mereka yang menjerit histeris sejadi-jadinya. Ia berdoa semoga Allah SWT memberikan kewarasan akal kepada orang-orang Ifrikiyah yang dimabuk cinta.
Nenek Destigul dan Abbas akhirnya pergi meninggalkan halaman makam Imam Husein, baru disadari bahwa bintang-bintang di angkasa terlihat sangat terang. Belum lagi cahaya lampu yang seolah-olah cahayanya diserap oleh makam Imam Husein. Entah sepanjang malam atau siang, hari atau abad, tak terhitung orang-orang yang menangis di dalamnya.
Sepanjang perjalanan di bawah bintang-bintang, rembulan, dan bintang venus yang selalu menyinari hati nenek Destigul, mereka berdua bercerita ringan seraya melantunkan puisi yang nenek hafalkan bersama teman-temannya di kampung Tikriti.
Seraya berjalan, sang cucu berkata bahwa ia sedang merindukan ibunya. Sang nenekpun berkata, "Setiap orang yang masih ada di dunia ini pasti akan merindukan apa yang ada di belakangnya. Inilah takdir yang telah ditetapkan. Apa yang membuat Fatimah az-Zahra menangis setelah ayahandanya wafat, kita juga akan mendapatkan bagian darinya. Hanya saja, sekarang ibumu sudah berada di sisi Zat yang jauh lebih mencintainya daripada cintamu padanya. Duhai cucuku, Bintang venus yang sekarang bersnar di atas kepalaku itu telah menjadi saksi bahwa kelahiran dan kematian adalah dua hal yang saling menyusul."
Pada hari kelahiran Fatima az-Zahra, saat semua orang mencacinya, para ustadz menerangkan, dengan seizin Allah SWT, datanglah baginda Asiyah dan Maryam menemani baginda Khadijah untuk menjadi teman hidupnya. Datang pula Hajar dan Sarah bersama seorang malaikat bernama Sundus menemani hari-hari sulit saat Khadijah hendak melahirkan.