Selasa, 21 Januari 2014

ILMU SOSIAL DASAR

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR
FUNGSI AGAMA







TENGKU WARDAH
18113846
1KA12













BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dewasa ini semakin disadari bahwa perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat semakin cepat terjadi.Agama sebagai fenomena sosial merupakan bagian dari masyarakat yang terkena arus perubahan ini. Doktrin agama memiliki horizon yang luas, doktrin itu menjadi sumber nilai bagi pembentukan kepribadian, ideologi bagi gerakan sosial dan perekat hubungan sosial.
Doktrin agama manapun yang dianut oleh komunitas mana pun dibelahan dunia ini mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi manusia yang baik, manusia yang jujur, manusia yang memiliki kasih sayang, mencintai kedamaian dan membenci kekerasan.
Kendati demikian tetap saja muncul anomali-anomali dalam mengaplikasikan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terjadinya anomali bisa disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian seseorang. Bisa karenaketerbatasan ilmu yang dimilikinya, karena sentimen terhadap hal-hal tertentu atau karena sempitnya pemahaman terhadap nilai-nilai humanis agama yang dianutnya. Yang menjadi pertanyaan apakah penyimpangan atau anomali-anomali tersebut disebabkan oleh faktor kekuasaan dan politik atau faktor lainnya.
Ditengah perkembangan dunia yang semakin global dan sekuler, persoalan agama dan penghayatan iman digugat maknanya, karena banyak sekali perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai fungsi agama bagi kehidupan masyarakat.





B.  Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian dari agama?
2.    Bagaimana kehidupan masyarakat saat ini?
3.    Bagaimana fungsi agama bagi masyarakat serta analisisnya?

C.  Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui apakah pengertian dari agama.
2.    Untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat saat ini.
3.    Untuk mengetahui bagaimana fungsi agama bagi masyarakat serta analisisnya.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Agama
Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta untuk menunjuk kepercayaan agama Hindhu dan Budha. Dalam perkembanganya kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia dan dipakai untuk menyebut kepercayaan yang ada di Indonesia secara umum.
Secara harafiah agama berarti tidak berantakan atau hidup teratur. Jadi Agama merupakan salah satu prinsip yang (harus) dimiliki oleh setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam kehidupan mereka. Tidak hanya itu, secara individu agama bisa menjadi penuntun manusia dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari. Beberapa ahli sosiologi memberikan pendapat mereka tentang agama, yaitu :

1.    Emile Durkheim
Agama merupakan sistem yang menyatu mengenai berbagai kepercayaan dan peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral, yakni katakanlah benda-benda yang terpisah dan terlarng. Kepercayaan-kepercayaan dan peribadatan-peribadatan yang mempersatukan semua orang yang menganutnya ke dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja.
2.    Karl Marx
Marx beranggapan bahwa agama adalah “candu masyarakat” yang mengelabuhi kesadaran manusia. Manusia seharusnya bekerja dan hidup untuk kebutuhan yang dirasakanya saat ini, yakni “kesejahteraan ekonomi”.
3.    Frans Dahler
Agama merupakan hubungan manusia dengan kekuasaan yang suci dimana kekuasaan yang suci tersebut lebih tinggi dari manusia.

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat kita ketahui bahwa dalam agama ada nilai-nilai tertentu yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi manusia. Nilai-nilai agama itu sudah ada dalam diri manusia dan sangat mempengaruhi nilai hidup manusia sehingga ia memiliki kesadaran bahwa diluar dirinya ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih suci yaitu agama.

B.   Masyarakat Indonesia Saat Ini
Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat majemuk, dimana kemajemukan itu dapat kita lihat dalam hal suku, etnis, bahasa, agama, dan lain-lain. Kini ada enam agama yang berada ditengah–tengah bangsa ini dan dilindungi ataudiakui secara legal. Atas dasar pluralitas yang begitu tinggi, Indonesia tidak lantas mengambil bentuk negara sebagai “negara agama” yang mendasarkan negara pada agama tertentu, dan tidak pula menjadi “negara sekuler” yang memisahkan agama dari urusan negara, tetapi Indonesia mengambil bentuk negara “Pancasila”.
Pancasila merupakan landasan Negara yang menjadi payung pelindung agama-agama yang ada di Indonesia. Pancasila menjadi wadah yang menjadi dasar pijak bersama seluruh anak bangsa dan agama menjadi isi pada dimensi ritual. Format ini bukan mengidentikkan negara dengan agama tertentu, tapi juga tidak melepaskan agama dari urusan negara. Indonesia meskipun dengan mayoritas penduduk muslim terbesar didunia tidak mengambil bentuk negara sebagai negara yang didasarkan Islam, tetapi mengambil bentuk sebagai negara Pancasila. Pola relasi ini bertahan hingga sekarang dengan segala bentuk dinamika kehidupan beragama yang selalu berubah.
Doktrin agama memiliki horizon yang luas, doktrin itu menjadi sumber nilai bagi pembentukan kepribadian, ideologi bagi gerakan sosial dan perekat hubungan sosial. Doktrin agama manapun yang dianut oleh komunitas mana pun dibelahan dunia ini mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjadi manusia yang baik, manusia yang jujur, manusia yang memiliki kasih sayang, mencintai kedamaian dan membenci kekerasan. Secara substansi ajaran agama memberikan kerangka norma yang tegas bagi tingkah laku umatnya, nyaris sulit ditemukan doktrin-doktrin agama wahyu yang tidak mengajarkan hal-hal yang baik kepada pemeluknya.
Faktor doktrinal tidak selalu menjadi dasar pijakan yang utama dalam kehidupan social, bagaimanapun perubahan sosial, dinamika sosial dan struktur masyarakat menjadi dasar bagi terciptanya suatu sistem kenegaraan atau kemasyarakatan yang bersifat responsive. Di Indonesia, mayoritas masyarakatnya menganut islam. Secara sosiologis, klaim mayoritas seringkali menjadi alasan bagi kalangan islam untuk “menguasai” konstitusi Negara dengan doktrin islam, meski hal itu merupakan konsekuensi logis dari penerimaan atas sistem demokrasi, tetapi makna doctrinal islam sejatinya harus dikontekskan dengan kecenderungan perubahan yang berlangsung dalam tubuh umat dan bangsa. Walaupun upaya-upaya kalangan islam tersebut maksimal, tetapi terbentur dengan kenyataan politik yang tidak berpihak kepada upaya-upaya pelegalformalan islam dan konstitusi Negara.


C.  Analisis Fungsi Agama
Banyak ahli telah mengemukakan gagasan mereka tentang bagaimana sebenarnya fungsi agama bagi kehidupan masyarakat. Seperti misalnya Durkheim yang mengungkapkan bahwa sasaran-sasaran keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralannya bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.
Seorang sosiolog lain, Radcliffe-Brown mengungkapkan bahwa berbagai peribadatan memiliki fungsi sosial tertentu ketika, dan sampai batas tertentu. Peribadatan-peribadatan itu berfungsi untuk mengatur, memperkokoh dan mentransmisikan berbagai sentimen dari satu generasi kepada generasi lainnya, juga sebagai tempat bergantung bagi terbentuknya aturan masyarakat yang bersangkutan.
Sementara secara umum fungsi dari agama dalam masyarakat antara lain adalah :
1.    Fungsi Edukatif
Ajaran agama secara yuridis (hukum) berfungsi menyuruh/mengajak dan melarang yang harus dipatuhi agar pribagi penganutnya menjadi baik dan benar, dan terbiasa dengan yang baik dan yang benar menurut ajaran agama masing-masing.
2.    Fungsi Penyelamat
Dimanapun manusia berada, dia selalu menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang diberikan oleh agama meliputi kehidupan dunia dan akhirat. Charles Kimball dalam bukunya Kala Agama Menjadi Bencana melontarkan kritik tajam terhadap agama monoteisme (ajaran menganut Tuhan satu). Menurutnya, sekarang ini agama tidak lagi berhak bertanya: Apakah umat di luat agamaku diselamatkan atau tidak? Apalagi bertanya bagaimana mereka bisa diselamatkan? Teologi (agama) harus meninggalkan perspektif (pandangan) sempit tersebut. Teologi mesti terbuka bahwa Tuhan mempunyai rencana keselamatan umat manusia yang menyeluruh. Rencana itu tidak pernah terbuka dan mungkin agamaku tidak cukup menyelami secara sendirian. Bisa jadi agama-agama lain mempunyai pengertian dan sumbangan untuk menyelami rencana keselamatan Tuhan tersebut. Dari sinilah, dialog antar agama bisa dimulai dengan terbuka dan jujur serta setara.
3.    Fungsi Perdamaian
Melalui tuntunan agama seorang/sekelompok orang yang bersalah atau berdosa mencapai kedamaian batin dan perdamaian dengan diri sendiri, sesama, semesta dan Alloh. Tentu dia/mereka harus bertaubat dan mengubah cara hidup.
4.    Fungsi Kontrol Sosial
Ajaran agama membentuk penganutnya makin peka terhadap masalah-masalah sosial seperti, kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Kepekaan ini juga mendorong untuk tidak bisa berdiam diri menyaksikan kebatilan yang merasuki sistem kehidupan yang ada.
5.    Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas
Bila fungsi solidaritas ini dibangun secara serius dan tulus, maka persaudaraan yang kokoh akan berdiri tegak menjadi pilar "Civil Society" (kehidupan masyarakat) yang tertib. Menggunakan istilah Habermas, perjuangan kita sekarang bukanlah satu melawan yang lain (fight against) dalam kemajemukan sistem nilai itu, melainkan perjuangan bersama untuk (fight for) menemukan sistem nilai yang melengkapi.
6.    Fungsi Pembaharuan
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru. Dengan fungsi ini seharusnya agama terus-menerus menjadi agen perubahan basis-basis nilai dan moral bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
7.    Fungsi Kreatif
Fungsi ini menopang dan mendorong fungsi pembaharuan untuk mengajak umat beragama bekerja produktif dan inovatif bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Analisis lain secara sosiologis terkait dengan fungsi agama adalah :

1.    Agama sebagai bagian dari kebudayaan
Dari sudut pandang fenomenologis, agama dapat dipandang sebagai pengalaman “sui generis” yang tidak dapat direduksikan dalam telaah ilmiah obyektif. Dalam pandangan Rudolf Otto misalnya, hidup keagamaan itu dilukiskan sebagai pengalaman “mysterium tremendum et fascinosum” yang mengerakkan pemeluk agama untuk hormat bakti kepada ilahi. Dari sudut pandang sosiologis, misalnya menurut Peter Berger, agama dilukiskan sebagai kegiatan manusia  dalam rangka kepercayaanya kepada illahi. Namun secara sosiologis masyarakat dipandang selalu sebagai produk dari kegiatanya sendiri. Dalam kegiatan ini terjadilah proses yang oleh Bergerdisebut sebagai “eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi terus menerus”.
Kegiatan masyarakat sebetulnya adalah menata dirinya sendiri, menciptakan keteraturan dari pengalaman-pengalaman hidup bersamanya dan membangun dunianya. Aktifitas semacam ini disebut nomisasi (nomos artinya hukum, tata tertib dan penataan makna). Dalam lingkup keagamaan, diciptakanlah secara khusus tata tertib yang dipahami maknanya dan diinternalisasikan. Agama menciptakan semacam kosmos keramat dimana masyarakat religious hidup terlindungi dalam keteraturan puncak. Dalam kosmos keramat ini pula, manusia dibebaskan dari rasa cemas karena kekacauan anomik (tanpa nomos), yakni tanpa hukum dan peraturan yang menyatukan mereka. Anomik kata Berger merupakan ancaman manusia terus-menerus. Dengan demikian agama dipandang sebagai lembaga yang amat penting.
Akan tetapi, dalam suatu masyarakat dengan kegiatan yang amat kompleks, agama sebenarnya hanyalah salah satu unsur dari sistem kebudayaan, disamping ekonomi, ilmu dan tekhnologi, sistem sosial politik dan kesenian. Memang bisa saja agama menjadi dominan dan menentukan konfigurasi dari unsur-unsur lain, seperti misalnya Kristianisme di Eropa pada abad pertengahan. Dalam msyarakat seperti itu memang segala kegiatan lainya seolah-olah harus dirujuk pada pertimbangan dan persetujuan agama.



2.    Agama, Teologi, Dan Kehidupan Bersama
Konflik bernuansa agama yang terjadi di Maluku dan Poso amat memprihatinkan dan merupakan ironi yang sulit untuk dipahami. Orang mungkin berdalih untuk menginkari adanya hubungan antara agama dan kekerasan, tapi dalih atau keterangan semacam itu tidak cukup menghibur ataupun memberi pemecahan yang kita harapkan. Agama-agama primitif beranggapan bahwa kekerasan dan penderitaan berasal dari Tuhan sebagai hukuman. Dalam pandangan semacam ini mudah ditarik logika bahwa pengikut agama merasa berhak pula menimpakan hukuman itu kepada lawan-lawanya. Tentu saja pandangan yang demikian ini, khususnya dalam masyarakat plural amat membahayakan keutuhan sosial. Barangkali lebih baik diakui bahwa kehidupan keagamaan kita, khususnya dimensi sosialnya memang belum dewasa dan teologi masih harus mengolah masalahini. Sebenarnya dalam kehidupan masyarakat saat ini agama berfungsi untuk menegakkan perdamaian terutama perdamaian antar agama.
Dalam perspektif inilah kiranya teologi perlu dibicarakan karena teologi merupakan refleksi atas kehidupan beriman, kehidupan beragama yang benar. Maka pendidikan teologi yang berfungsi merefleksikan kiprah dan peran agama dalam masyarakat dan kiranya harus menjadi agenda untuk semua agama. Selanjutnya perlu diadakan pendekatan antara teologi-teologi agama yang berbeda-beda.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Agama merupakan sistem keyakinan dan praktik terhadap hal-hal yang sakral, yakni keyakinan dan praktik yang membentuk suatu moral komunitas dalam pemeluknya. nilai-nilai agama sudah ada dalam diri manusia dan nilai-nilai tersebut sangat mempengaruhi nilai hidup manusia sehingga ia memiliki kesadaran bahwa diluar dirinya ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih suci yaitu adalah agama.
Secara umum fungsi dari agama dalam masyarakat
-                 Fungsi Edukatif
-                 Fungsi Penyelamat.
-                 Fungsi Perdamaian.
-                 Fungsi Kontrol Sosial.
-                 Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas.
-                 Fungsi Pembaharuan.
-                 Fungsi Kreatif.
Secara Sosiologis agama merupakan salah satu unsur dari sistem kebudayaan, disamping ekonomi, ilmu dan tekhnologi, sistem sosial politik dan kesenian. Memang bisa saja agama menjadi dominan dan menentukan konfigurasi dari unsur-unsur lain, seperti misalnya Kristianisme di Eropa pada abad pertengahan. Dalam masyarakat seperti itu memang segala kegiatan lainya seolah-olah harus dirujuk pada pertimbangan dan persetujuan agama.
Dalam kehidupan masyarakat saat ini agama berfungsi untuk menegakkan perdamaian antar agama, kiranya teologi perlu dibicarakan karena teologi merupakan refleksi atas kehidupan beriman, kehidupan beragama yang benar. Maka pendidikan teologi berfungsi merefleksikan kiprah dan peran agama dalam masyarakat dan kiranya harus menjadi agenda untuk semua agama. Selanjutnya perlu diadakan pendekatan antara teologi-teologi agama yang berbeda-beda.


Jumat, 10 Januari 2014

ILMU SOSIAL DASAR

Nama :Tengku Wardah
Kelas :1KA12
NPM :18113846
Ilmu Sosial Dasar

Pengertian
Untuk menjawab dan memecahkan berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan maka lahirlah berbagai macam ilmu pengetahuan. Berdasarkan sumber ilmu filsafat yang di anggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan di kelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1.      Ilmu-ilmu Alamiah (natural science). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas.
2.      Ilmu-ilmu sosial (social science). ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah.
3.      Pengetahuan budaya (the humanities) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Ilmu Sosial Dasar adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/menelaah tentang masalah-masalah sosial di dalam sebuah masyarakat yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah manusia .

Maka dari itu pelajaran ilmu sosial dasar diberikan kepada mahasiswa sebagai suatu bahan program studi atau mata kuliah umum. Mata kuliah umum sosial dasar diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan guna mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, presepsi, dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosialnya 




Tujuan
Tujuan Ilmu Sosial Dasar

a. Tujuan umum
diselenggarakannya mata kuliah Ilmu Sosial Dasar ialah pembentukan dan pengembangan kepribadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan, dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungannya, khususnya gejala berkenaan dengan masyarakat dengan orang lain, agar daya tanggap, presepsi, dan penalaran berkenaan dengan lingkungan social dapat dipertajam.

b. Tujuan khusus:
1.      Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-maslah sosial yang ada dalam masyarakat.
2.      Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
3.      Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekatinya (mempelajarinya).
4.      Memahami jalan pikiran para ahli dalalm bidang ilmu pengetahuan lalin dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalalm rangka penanggulangan maslah sosial yang timbul dalam masyarakat.

Ruang Lingkup Ilmu Sosial Dasar
Ilmu sosial dasar mencakup masalah-masalah sosial yang timbul didalam sebuah masyarakat. Untuk menelaah masalah-masalah sosial tersebut hendaknya terlebih dahulu dapat mengidentifikasi kenyataan-kenyataan sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tersebut. Sehingga ilmu sosial dasar dapat dibedakan atas tiga golongan beasar yaitu :
1.      Kenyataan-kenyataan sosial yang ada didalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu.
2.      Konsep-konsep sosial atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas pada ilmu sosial.
3.      Masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan satu sama lain.




Ilmu sosial dasar terdiri dari 8 (delapan) pokok pembahasan. Dari kedelapan pokok pembahasan tersebut maka ruang lingkup perkuliahan Ilmu Sosial Dasar diharapkan mempelajari dan memahami adanya :
1.      Berbagai masalah kependudukan dalam hubunganya dengan pengembangan masyarakat dan kebudayaan.
2.      Masalah Individu, keluarga dan masyarakat.
3.      Masalah pemuda dan sosialisasi
4.      Masalah hubungan antara Warga Negara dan Negara
5.      Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6.      Masalah masyarakat perkotaan dan masalah pedesaan.
7.      Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8.      Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan keserjahteraan masyarakat.

Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat kemampuan yang terdiri atas :
1. Kemampuan Akademik
2. Kemampuan Profesi
3. Kemampuan Pribadi

Ilmu sosial (Inggris:social science) atau ilmu pengetahuan sosial (Inggris:social studies) adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku dan interaksi manusia pada masa kini dan masa lalu. Berbeda dengan ilmu sosial secara umum, IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan yang luas terhadap masyarakat.

Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang, beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial.[1] Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya.

Karena sifatnya yang berupa penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, di Indonesia IPS dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP/SLTP). Sedangkan untuk tingkat di atasnya, mulai dari sekolah menengah tingkat atas (SMA) dan perguruan tinggi, ilmu sosial dipelajari berdasarkan cabang-cabang dalam ilmu tersebut khususnya jurusan atau fakultas yang memfokuskan diri dalam mempelajari hal tersebut.



CABANG  UTAMA

Cabang-cabang utama dari ilmu sosial adalah:
·         Antropologi, yang mempelajari manusia pada umumnya, dan khususnya antropologi budaya, yang mempelajari segi kebudayaan masyarakat
·         Ekonomi, yang mempelajari produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat
·         Geografi, yang mempelajari lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi
·         Hukum, yang mempelajari sistem aturan yang telah dilembagakan
·         Linguistik, yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa
·         Pendidikan, yang mempelajari masalah yang berkaitan dengan belajar, pembelajaran, serta pembentukan karakter dan moral
·         Politik, yang mempelajari pemerintahan sekelompok manusia (termasuk negara)
·         Psikologi, yang mempelajari tingkah laku dan proses mental
·         Sejarah, yang mempelajari masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia
·         Sosiologi, yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya


Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Sosial dasar (ISD) dan Ilmu Pengetahuan sosial(IPS) kedua-duanya mempunyai persamaan dan perbedaan.

Persamaan ISD dan IPS yaitu :
a. Kedua-duanya merupakan bahan studi untuk kepentingan program pendidikan.
b. Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
c. Keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan social dan masalah sosial.

Perbedaan ISD dan IPS yaitu :
a. Ilmu sosial dasar diberikan di Perguruaan Tinggi, Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
b. Ilmu sosial dasar merupakan mata kuliah tunggal sedangkan ilmu pengetahuan sosial dasar merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran(untuk sekolah lanjutan).
c. Ilmu Sosial dasar diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian, sedang ilmu pengetahuan social diarahkan kepada pembentukan pengetahuan dan keterampilan intelektual.


Kamis, 09 Januari 2014

ILMU SOSIAL DASAR

TENGKU WARDAH
18113846

Fakultas Ilmu Komunikasi dan Teknologi Informasi
Sistem Informasi
Universitas Gunadarma






BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
       Perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997 membuat kondisi ketenagakerjaan Indonesia ikut memburuk. Sejak itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tidak pernah mencapai 7-8 persen. Padahal, masalah pengangguran erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi ada, otomatis penyerapan tenaga kerja juga ada. Setiap pertumbuhan ekonomi satu persen, tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 400 ribu orang. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 3-4 persen, tentunya hanya akan menyerap 1,6 juta tenaga kerja, sementara pencari kerja mencapai rata-rata 2,5 juta pertahun. Sehingga, setiap tahun pasti ada sisa pencari kerja yang tidak memperoleh pekerjaan dan menimbulkan jumlah pengangguran.di.Indonesia.bertambah.
       
Sampai Agustus 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,14% atau 8,32 juta orang dari jumlah angkatan kerja yang berjumlah 116,53 juta orang. Demikian disampaikan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya Jalan DR. Soetomo, Jakarta, Rabu (1/12/2010). "Dibandingkan Agustus 2009, jumlah pengangguran di Indonesia semakin berkurang. Pada Agustus 2010 7,14%, sementara di Agustus 2009 7,87%," ujar Rusman. Secara jumlah, total pengangguran di Indonesia pada Agustus 2010 juga menurun, dari 8,96 juta orang di Agustus 2009 menjadi 8,32 juta orang di Agustus 2010. "Penurunannya karena pertumbuhan ekonomi, kalau bagus akan banyak lapangan kerja yang tumbuh. Semua lapangan kerja naik, kecuali pertanian turun 117 ribu orang (0,28%)," ujar Rusman. Selain itu lapangan kerja di sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi juga menurun 500 ribu orang atau 8,16%. Jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2010 mengalami kenaikan terutama di sektor industri sebesar 772 ribu orang (5,91%) dan sektor konstruksi sebesar 748 ribu orang (15,44%). Sedangkan sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah sektor pertanian sebesar 1,3 juta orang (3,11%) dan sektor transportasi sekitar 198 ribu orang (3,41%). Sektor pertanian, perdagangan, jasa kemasyarakatan dan sektor industri secara berurutan menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja pada bulan Agustus 2010.Selain masalah di atas, masalah kependudukan yang berhubugan erat dengan pengangguran adalah kemiskinan, Sejak tahun 2002, sebuah tim yang terdiri dari para analis Indonesia dan manca negara, dibawah naungan Program Analisa Kemiskinan di Indonesia (INDOPOV) di kantor Bank Dunia Jakarta, telah mempelajari karakteristik kemiskinan di Indonesia. Mereka telah berusaha untuk mengidentifikasikan apa yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dalam upaya pengentasan kemiskinan, dan untuk memperjelas pilihan-pilihan apa saja yang tersedia untuk Pemerintah dan lembaga- lembaga non-pemerintah dalam upaya mereka untuk memperbaiki standar dan kualitas kehidupan masyarakat miskin Makalah mencoba untuk menganalisa sifat multi-dimensi dari pengangguran dan kemiskinan di Indonesia pada saat ini melalui pandangan baru yang didasarkan pada perubahan-perubahan penting yang terjadi di negeri ini selama satu dekade terakhir. Sebelum ini, Bank Dunia telah menyusun Kajian-Kajian Kemiskinan, yaitu pada tahun 1993 dan 2001, namun kajian-kajian tersebut tidak membahas masalah kemiskinan secara mendalam. Kajian ini memaparkan kekayaaan pengetahuan yang dimiliki oleh Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia dan penulis berharap bahwa kajian ini akan menjadi sumbangan penting untuk menghangatkan diskusi kebijakan yang ada dan, pada akhirnya akan membawa perubahan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan upaya-upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.

Identifikasi Masalah
·         Meningkatnya tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia
·         Kurangnya lapangan pekerjaan,yang menyebabkan sebagian orang menganggur
·         Bertambahnya jumlah penduduk dengan pesat
·         Kurangnya kinerja pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Indonesia

Rumusan Masalah
        Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut: Bagaiman Keadaan Pengangguran Dan Kemiskinan Di Indonesia Serta Apa Saja Kebijakan Untuk Mengatasi Masalah Tersebut?

Tujuan 
       Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah ;
·         Untuk mengetahui keadaan pengangguran dan ke miskinan di indonesia
·         Untuk menjadikan masalah ini sebagai acuan dalam perbaikan ke arah yang lebih baik
·         Untuk menambah pengetahuan bagi yang membaca makalah ini
·         Untuk menambah wawasan dalam pembelajaran bagi mahasiswa yang di tugaskan
·         Untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Sosiologi Ekonomi
Manfaat
            Adapun maanfaat dari pembuatan makalah ini sebagai berikut ;
·         Supaya masyarakat tahu kondisi penduduk di indonesia
·         Supaya menjadi bahan toleransi bagi pemerintah dan lembaga-lembaga yang berwenang
·         Supaya yang di tugaskan membuat makalah ini tahu pengertian atau masalah-masalah yang di tugaskan,agar menambah wawasan













BAB II
PEMBAHASAN


DEFINISI PENGANGGURAN
            Definisi pengangguran secara teknis adalah semua orang dalam referensi waktu tertentu, yaitu pada usia angkatan kerja yang tidak bekerja, baik dalam arti mendapatkan upah atau bekerja mandiri, kemudian mencari pekerjaan, dalam arti mempunyai kegiatan aktif dalam mencari kerja tersebut. Selain definisi di atas masih banyak istilah arti definisi pengangguran diantaranya:
            Menurut Sadono Sukirno Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Menurut Payman J. Simanjuntak Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja berusia angkatan kerja yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan.
            Definisi pengangguran berdasarkan istilah umum dari pusat dan latihan tenaga kerja Pengangguran adalah orang yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang meskipun dapat dan mampu melakukan kerja. Definisi pengangguran menurut Menakertrans Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan suatu usaha baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.

JENIS-JENIS PENGANGGURAN
            Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian diatas, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.

Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktuiral bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti : akibat permintaan berkurang, akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi, akibat kebijakan pemerintah.
Pengangguran friksional (Frictional Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.
Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin
Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).


SEBAB-SEBAB TERJADINYA PENGANGGURAN

          Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengganguran adalah sebagai berikut:
Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
             Ketidak seimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia.Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.

Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang
             Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang.
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
Meningkatnya peranan dan aspirasi
            Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia.

Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
            Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.

Dampak-Dampak Pengangguran Terhadap Perekonomian
            Untuk mengetahui dampak pengganguran terhadap per-ekonomian kita perlu mengelompokkan pengaruh pengganguran terhadap dua aspek ekonomi , yaitu:

Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian suatu Negara
            Tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan.
Hal ini terjadi karena pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sector pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian me-nurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menye-babkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.

Dampak pengangguran terhadap Individu yang Meng-alaminya dan Masyarakat
            Berikut ini merupakan dampak negatif pengangguran terhadap individu yang mengalaminya dan terhadap masyarakat pada umumnya:
 Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
Ø
 Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
Ø
 Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan social politik.
Ø

Kebijakan – Kebijakan Pengangguran
            Adanya bermacam-macam pengangguran membutuh-kan cara-cara mengatasinya yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sbb :

Cara Mengatasi Pengangguran Struktural
            Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang digunakan adalah :
Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja
 Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sector ekonomi yang kekurangan
 Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
 Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.

Cara Mengatasi Pengangguran Friksional
          Untuk mengatasi pengangguran secara umum antara lain dapat digunakan cara-cara sbb:
Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
Menggalakkan pengembangan sector Informal, seperti home indiustri
Menggalakkan program transmigrasi untuk me-nyerap tenaga kerja di sector agraris dan sector formal lainnya
Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
2.5.3 Cara Mengatasi Pengangguran Musiman.
Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara :
 Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sector lain, dan
 Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.

Cara mengatasi Pengangguran Siklus
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini adalah :
Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan  Meningkatkan daya beli Masyarakat.


Defenisi Kemiskinan
            Menurut wikipedia Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
            Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang (LDCs), tidak terkecuali di Indonesia.

Jenis-Jenis Kemiskinan
            Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan. Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif, sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut
Kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam
Ø distribusi pendapatan, biasanya dapat didefinisikan didalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.
 Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan dibawah, dimana
Ø kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi.

Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
            Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan

- Tingkat dan laju pertumbuhan output
 -Tingkat upah neto
 -Distribusi pendapatan
 -Kesempatan kerja
 -Tingkat inflasi
 -Pajak dan subsidi
 -Investasi
 -Alokasi serta kualitas SDA
 -Ketersediaan fasilitas umum
 -Penggunaan teknologi
 -Tingkat dan jenis pendidikan
 -Kondisi fisik dan alam
 -Politik
 -Bencana alam
 -Peperangan
 

Kebijakan Antikemiskinan
            Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya tinggi.
Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
·          pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
·         Pemerintahan yang baik (good governance)
·          Pembangunan sosial

Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
a. Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
b. Intervensi jangka menengah dan panjang meliputi: Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi, Pendidikan dan Kesehatan Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan